Menembus Sekat Ego Demi Indonesia

AdminSTAIBabunnajah | 2026-10-27 | 23:03:22 | 40 kali dilihat
Menembus Sekat Ego Demi Indonesia
Opini
Oleh : M. Gilang A. Mubarak

Edisi Sumpah Pemuda

 - 

Hampir seabad silam, tepatnya 28 Oktober 1928, sekelompok anak muda dari berbagai latar kedaerahan berkumpul di Batavia. Mereka menanggalkan sekat primordial, meredam kepentingan kelompok, lalu bersepakat melahirkan satu komitmen kebangsaan: bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan. Kala itu, mereka bergerak bukan atas dasar fasilitas yang mapan, melainkan nyali intelektual dan kesadaran kolektif yang kokoh.

 

Hari ini, lanskap pergerakan pemuda bergeser tajam. Di menara gading, koridor kampus, hingga bilik-bilik sosio-digital, pemuda dan mahasiswa bergerak dalam ritme yang teramat padat, namun kerap berjalan nafsi-nafsi sendiri-sendiri. Kesibukan mengejar capaian portofolio personal, angka-angka IPK, hingga validasi sesaat pada dunia digital linimasa media sosial yang tak jarang mengurung energi intelektual dalam sekat ego masing-masing. Terjadi sebuah paradoks peradaban bahwa generasi kita hari ini begitu terhubung secara teknologi, namun terasa tercerai-berai dalam kepekaan sosial.

 

Peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun 2026 yang mengusung tema "Pemuda Patriotik, Gigih, dan Berempati untuk Indonesia" (Kemenpora, 2026) hadir sebagai cambuk moral yang tepat, khususnya bagi mahasiswa di perguruan tinggi. Tiga pilar ini bukanlah slogan usang, melainkan nilai hidup yang berakar langsung pada teladan para tokoh pendiri bangsa yang menolak takluk pada sekat dan keterbatasan pada zamannya.

 

Patriotik yang Berani Mengambil Risiko

Patriotisme mahasiswa abad ke-21 menuntut keberanian melangkah keluar dari zona nyaman pribadi (out of the box) dan senantiasa berpikiran terbuka (open-minded). Tokoh pergerakan nasional, Sutan Sjahrir, pernah mengingatkan kita dengan tegas:

"Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan." -Sutan Sjahrir

Bagi mahasiswa, "mempertaruhkan diri" berarti berani bersikap kritis, menjauhi pragmatisme sempit, serta berani mengerahkan ilmu pengetahuan untuk membela kepentingan masyarakat luas di atas reputasi personal.

 

Gigih Menembus Batas Zaman

Kegigihan menjadi senjata utama dalam menghadapi serba ketidakpastian zaman serta kebuntuan dalam riset-riset akademis. Kegigihan dan semangat pantang surut ini diwariskan langsung oleh R.A. Kartini dalam catatannya:

"Tahukah engkau semboyanku? 'Aku mau!' Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung rintangan."

 

Mahasiswa hari ini dituntut memiliki daya tahan mental yang kuat dan liat untuk terus belajar, meneliti, mengabdi, dan menghasilkan karya nyata yang berdampak tanpa terjebak dalam keputusasaan yang instan.

 

Berempati dan Menghidupkan Ruang Kolaborasi

Kecerdasan tanpa empati hanya akan mencetak teknokrat yang abai terhadap nasib bangsanya. Ki Hajar Dewantara merumuskan esensi kepemimpinan dan keteladanan melalui semboyan agungnya:

?"Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani"

(Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan).

 

Mahasiswa tidak hanya memandang masyarakat dari menara gading kampus. Sebaliknya, mereka harus hadir langsung di tengah-tengah problem sosial, merangkul sesama, dan bergotong-royong berkolaborasi menemukan jalan keluar.

Kampus adalah kawah candradimuka peradaban, bukan sekadar pabrik pencetak ijazah. Saatnya kita semua menanggalkan ego-ego sektoral, bersatu menyatukan langkah lintas disiplin, dan membuktikan bahwa ruh 1928 tetap menyala. Indonesia tidak kekurangan individu yang pintar, melainkan menanti kehadiran pemuda yang patriotik, gigih, dan berempati untuk bergerak serentak memberi dampak demi kejayaan tanah air.

Sebagai pengingat moral atas mandat sejarah itu, sastrawan Pramoedya Ananta Toer pernah berpesan:


"Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri."

 

Keberanian itulah yang membedakan penonton dari penggerak peradaban: keberanian untuk meruntuhkan tembok ego pribadi, berpihak pada kemanusiaan, dan mempersembahkan segenap daya nalar untuk Ibu Pertiwi.

Sebagai penutup, mari kita merenungkan maha-karya sosiolog dan filsuf besar Ibnu Khaldun dalam magnum opusnya Al-Muqaddimah (1377 M /779 H), yang menggariskan tentang hakikat jatuh bangunnya sebuah peradaban:


"Sesungguhnya kemuliaan peradaban tidak akan pernah tercapai melainkan dengan solidaritas kolektif (ashabiyah) dan keberanian melangkah; apabila suatu generasi telah condong pada kenyamanan diri serta egoisme, lenyaplah kejayaan mereka."

 

Seruan dari abad pertengahan ini menjadi cermin abadi bagi kita semua: peradaban bangsa ini tidak akan pernah dibangun di atas tempurung egoisme individual, melainkan harus dirajut lewat keberanian, kegigihan, dan empati persaudaraan yang melintasi sekat diri. 

 

Selamat Hari Sumpah Pemuda! Bangkitlah pemuda, bergeraklah mahasiswa!

Sign In News Alamat Profile