Melalui tuturan sejarah, kita mendapatkan informasi bahwa pengetahuan telah dikembangkan oleh manusia sedemikian rupa, dari tahap mitos hingga sampai pada tahap perkembangan sains empirik-positivistik seperti tampak dewasa ini. Mungkin muncul pertanyaan: mengapa manusia begitu bersemangat mengembangkan pengetahuan? Hal ini tampaknya dilatar-belakangi hal 'sederhana': manusia hidup bersama alam, melihatnya, mendengarnya, dan merasakannya. Dari itu kemudian manusia ter-rangsang untuk mengetahuinya, dan mengenalinya lebih dekat sekaligus lebih jauh tentang "teman sejatinya" alam semesta yang amat mencengangkan. Persis pada titik ini, Aristoteles menegaskan "setiap manusia, dari kodratnya selalu ingin tahu."Filsafat lahir dan (pada awalnya) dikembangkan oleh bangsa Yunani. Kenyataan ini menandai perkembangan lebih lanjut dari suatu jenis pengetahuan manusia yang lazim disebut mitos. Dalam perkembangannya kemudian, lahir beberapa cabang filsafat, salah satunya adalah epistemologi. Epistemologi merupakan salah satu cabang filsafat yang khusus membahas masalah-masalah pengetahuan kodrat pengetahuan, scope pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasarnya, serta pertanggung-jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliiki. Salah satu aliran filsafat pengetahuan (epistemologi) yang berkembang pada abad ke-20 adalah Pragmatisme. Aliran ini berkembang dan mendapat tempat yang cukup "istimewa" di Amerika Serikat. Keistimewaan ini merujuk kepada fakta bahwa filsafat ini dikembangkan oleh pemikir-pemikir yang kebanyakan berkebangsaan Amerika. Sehingga kemudian, aliran ini sering dikaitkan dengan filsafat Amerika. Dua tokoh besar yang tampaknya menjadi ikon pragmatisme adalah William James dan John Dewey. William James dianggap sebagai orang yang berjasa mengenalkan pragmatisme kepada dunia. Walaupun sebenarnya, orang yang mencetuskan pragmatisme adalah Charles Sanders Peirce.
Kritik John Dewey Terhadap sistem Pengetahuan
Kritik John Dewey terhadap sistem pengetahuan, terlihat dari kritiknya terhadap sistem filsafat tradisional yang memposisikan pengetahuan metafisika sedemikian tinggi, sehingga menurut Dewey cenderung memisahkan pengetahuan dari tindakan. Juga, penolakannya terhadap rasionalisme yang menurutnya cenderung memisahkan konsep dari interaksi dengan pengalaman.
John Dewey merupakan salah seorang dari Trio-Pragmatis dari Amerika Serikat, dua tokoh pragmatis lainnya adalah Charles Sanders Pierce, dan William James. Salah satu pandangan Dewey yang amat mencolok adalah kritiknya terhadap filsafat tradisional. Baginya, pemikiran filsafat itu memiliki tugas untuk memberikan garis-garis pengarahan bagi perbuatan dalam kenyataan hidup. Oleh karenanya, pemikiran filsafat menurut Dewey, tidak boleh tenggelam dalam pemikiran-pemikiran metafisis. Sebab, pemikiran semacam itu di mata Dewey tidak ada manfaatnya.
Dalam pandangan John Dewey, upaya mencari kepastian di dalam pengetahuan hanyalah merupakan suatu upaya mencari rasa aman. Menurut John Dewey, seluruh prosedur salah, dan telah menghalangi manusia untuk mengadakan kontak dengan kekayaan pengalamannya sendiri. Oleh karenanya, menurutnya, zaman baru harus dimulai: tindakan harus dibiarkan memperkembangkan patokannya sendiri dan tidak dipaksa untuk "menyesuaikan diri dengan apa yang telah ditetapkan di dalam struktur benda-benda sebelumnya."
Dewey kemudian menegaskan bahwa ide-ide kita bukanlah merupakan suatu hak istimewa untuk mengintip patokan-patokan transenden. Ide-ide tersebut bagi Dewey merupakan aspek dari tindakan kita. Ide-ide itu menurutnya merupakan konsepsi dari akibat-akibat yang mungkin dari kegiatan kita. Tempat dimana pikiran mulai, adalah tempat dimana manusia mulai, yakni kenyataan sebagaimana dialami secara langsung.
Penolakan Terhadap Rasionalisme
Pemikiran Dewey tampak diametral dengan pemikiran metafisika. Hal itu tergambar jelas dari kritiknya terhadap pemikiran filsafat tradisional, yang menurutnya cenderung memisahkan pengetahuan dari tindakan. Pemikiran Dewey lebih menekankan kepada tindakan dari pada pemikiran metafisis yang menurutnya, pemikiran metafisis semacam itu tidak ada gunanya.
Inti pemikiran Dewey, sebagaimana ditegaskan Kenneth T. Gallagher, adalah penolakan terhadap rasionalisme. Menurut Dewey, arti dari konsep tidak kita miliki, kecuali melalui interaksi dengan pengalaman. Berkenaan dengan ini, Dewey mengajukan pertanyaan retoris: "bukankah merupakan hal yang benar bahwa ide kita tentang 'apa-itu'nya sesuatu seringkali merupakan pengertian tentang konsekuensi dari macam-macam tindakan yang kita lakukan dengannya atau terhadapnya? Ide kita tentang air, kayu, rumput, dan kuda, menurut Dewey, didasarkan pada 'kelihatan seperti apa'-nya benda-benda tersebut.
Paparan di atas, menginformasikan satu hal, bahwa tindakan terhadap benda-benda dan interaksi benda-benda tersebut dengan kita, menurut Dewey menjadi landasan pengetahuan kita, tentang esensi pengada-pengada natural. Kita, tegas Dewey, tidak menangkap esensi dari air atau batu dengan menggunakan standar transenden pada arus perkembangan waktu.
Metode Ilmiah yang Ditawarkan John Dewey
Paradigma berpikir harus diubah. Demikian tampak dari kritik John Dewey terhadap pengetahuan filsafat yang dikembangkan dunia barat sebelumnya. Ia kemudian mengemukakan pandangan bahwa pemikiran kita berpangkal dari pengalaman-pengalaman, dan bergerak kembali menuju pengalaman-pengalaman. Dewey menegaskan bahwa gerak itu dibangkitkan segera kita dihadapkan dengan suatu keadaan yang menimbulkan suatu persoalan dalam dunia sekitarnya, dan gerak itu berakhir dalam beberapa perubahan dalam dunia sekitar atau dalam diri sendiri.
Pengalaman yang langsung bukan-lah soal pengetahuan, yang mengandung di dalamnya pemisahan subyek dan obyek, antara pelaku dan sasarannya. Di dalam pengalaman langsung itu keduanya bukan dipisahkan, melainkan dipersatukan. Dengan ungkapan lain, bahwa apa yang dialami tidak dipisahkan dari yang mengalami sebagai sesuatu yang berarti atau penting. Kalaupun terdapat pemisahan obyek dari subyek, hal itu menurut John Dewey bukan pengalaman. Melainkan, pemikiran kembali kepada pengalaman tadi. Pemikiran itulah yang menyusun sasaran pengetahuan.
Penyelidikan, menurut Dewey, adalah transformasi yang terawasi dari suatu keadaan yang tak menentu menjadi suatu keadaan yang tertentu. Penyelidikan itu menurutnya, berkaitan dengan penyusunan kembali pengalaman yang dilakukan dengan sengaja. Oleh karenanya, penyelidikan dengan penilaiannya merupakan suatu alat (instrument). Dalam pandangan dewey semacam ini, maka yang benar sebagaimana dikemukakan Harun Hadiwijono, adalah apa yang pada akhirnya disetujui oleh semua orang yang menyelidikinya. Kebenaran ditegaskan dalam istilah-istilah penyelidikan. Kebenaran bukan hal yang sekali ditentukan dan tidak boleh diganggu gugat. Sebab, dalam prakteknya kebenaran memiliki nilai fungsional yang tetap. Segala pernataan yang kita anggap benar, menurut Dewey, pada dasarnya dapat berubah.
Menurut Dewey, mengenal adalah berbuat. Kebenarannya akan tampak dari pengujiannya oleh pengalaman-pengalaman di dalam praktek. Titik tekan sekaligus titik tolak pemikiran Dewey adalah pengalaman dalam dunia indrawi, dan bukan pemikiran metafisik transendental. Maka, dapat dipahami jika kemudian Dewey menawarkan metode induktif sebagai satu-satunya cara yang dapat dipercaya untuk mengatur pengalaman, dan untuk mengetahui artinya yang sebenarnya. Metode ini, menurut Dewey, bukan hanya berlaku bagi ilmu pengetahuan fisika, melainkan juga bagi persoalan-persoalan sosial dan moral.
Sumber dan Hakikat Pengetahuan
Bagaimana sumber dan hakikat pengetahuan menurut John Dewey? Perlu dipahami bahwa bagi John Dewey, kegunaan dan kemanfaatan untuk umum seharusnya menjadi ukuran, sedangkan daya untuk mengetahui dan daya untuk berpikir merupakan sarana (instrument).
Menurut Dewey, Pemikiran kita itu berpangkal dari pengalaman-pengalaman, dan bergerak kembali menuju pengalaman-pengalaman. Dari pandangan Dewey semacam itu, tampak jelas bahwa pengalaman menjadi begitu sentral dalam pandangan-nya. Dari itu kemudian kita dapat mengidentikkan pandangan Dewey tentang pengetahuan tersebut dengan doktrin utama pemikiran Pragmatisme, yakni sesuatu dipandang, jika ia berfungsi dalam kenyataan; sesuatu berharga dipelajari, sejauh sesuatu itu dapat dipergunakan, dan memiliki efek.
Selain itu, nilai pengetahuan dalam pandangan Dewey, harus didasarkan pada kegunaan praktisnya. Perhatikan kembali ungkapan Dewey "kegunaan dan kemanfaatan untuk umum seharusnya menjadi ukuran, sedangkan daya untuk mengetahui dan daya untuk berpikir merupakan sarana."
Bertolak dari pandangan di atas, sumber pengetahuan dalam pandangan John Dewey dengan demikian bersumber dari pengalaman, metode-metode eksperimental, dan usaha-usaha praktis.
Alat dan Metode Pengetahuan
Dalam pandangan John Dewey, tindakan merupakan alat bagi pengetahuan. Pengetahuan kita mengenai kodrat atau hakikat sesuatu, pada prinsipnya merupakan hasil dari kemampuan kita untuk mengolah alam.
Pada pembahasan sebelumnya, telah dikemukakan bahwa Dewey mengkritik pemikiran metafisik tradisional. Dan Pragmatisme sendiri, sebagaimana dikemukakan Kenneth T. Gallagher, membatasi pengetahuan kita kepada alam, serta mengesampingkan penggunaan konsep-konsep untuk hal-hal yang transenden. Namun demikian, sesungguhnya yang menjadi penekanan Pragmatisme dan juga Dewey adalah bahwa pengetahuan kita mengenai sesuatu yang "absolut-transenden" harus juga lahir dari pengalaman.
Berkenaan dengan hal tersebut di atas, Dewey menunjuk sains sebagai contoh kerja-sama pengetahuan dan tindakan. Dalam ungkapan yang lain, dapat dikatakan bahwa pengetahuan kita mengenai esensi sesuatu, merupakan hasil interaksi kita dengan pengalaman yang terus menerus. Persis pada titik ini, pemikiran Dewey sebenarnya merupakan peringatan keras bagi kita mengenai keyakinan yang prematur "esensi sudah kita ketahui sebelumnya." Kita, menurut Dewey, masih dalam proses menemukan apa itu manusia, sebagaimana kita pun masih dalam proses menemukan apa itu kenyataan secara keseluruhan.
Sebagaimana telah dikemukakan pada pembahasan sebelumnya, bahwa Dewey mengedepankan "induktivisme" sebagai metode dan paradigma dalam memperoleh pengetahuan yang benar.
Sebagai sebuah metode, induktif tidak lebih dari suatu prosedur-sistematis yang harus ditempuh dalam upaya memperoleh pengetahuan yang benar. Metode ini memiliki paradigma pengambilan suatu kesimpulan umum yang dianggap benar dengan didasarkan pada penyelidikan terhadap kenyataan-kenyataan partikular-empiris dengan segenap kekhas-an masing-masing.
Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang memiliki ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan bersifat umum. Kehidupan yang beraneka ragam dengan berbagai corak dan segi, dapat direduksi menjadi beberapa pernyataan. Pengetahuan yang dikumpulkan secara induktif, tidak bisa dipandang sebagai koleksi dari berbagai fakta, melainkan esensi dari fakta-fakta tersebut. Dengan menggunakan metode atau pendekatan induktif ini, menurut hemat penulis, memungkinkan kita untuk melakukan upaya-upaya penyelidikan eksperimental, dan upaya-upaya praktis.
Sebagai sebuah paradigma, metode induktif bagi Dewey berarti bahwa pemikiran kita berpangkal dari pengalaman-pengalaman, dan bergerak kembali menuju pengalaman-pengalaman. Dalam ungkapan yang lain, pengetahuan kita mengenai esensi sesuatu, merupakan hasil interaksi kita dengan pengalaman yang terus menerus.
Paradigma induktif ala Dewey menekankan pentingnya tindakan sebagai sebuah bentuk pengalaman dalam berinteraksi dengan alam. Dengan proses pengalaman tindakan berinteraksi dengan alam inilah manusia dapat mengenali kenyataan terdekat sekaligus terjauh dari alam, yakni esensi. Dengan demikian, titik-tolak utama perhatian pikiran manusia, seharusnya kenyataan empiris, bukan kenyataan idealistik-rasionalistik yang tentu saja abstrak metafisis-transendental.
Menurut hemat penulis, Dewey bukan menafikan kenyataan transendental. Melainkan, kenyataan transendental tersebut merupakan satu tahapan pencapaian dalam proses penyelidikan terhadap realitas partikular-empiris secara berkesinambungan, untuk kemudian dijadikan dasar pijakan dalam memahami keseluruhan kenyataan. Sehingga ia lebih menekankan perhatian pada realitas-realitas partikular-empiris yang menurutnya merupakan titik-tolak dalam proses memahami dan sekaligus tujuan akhir dalam proses memahami kenyataan secara keseluruhan. Sebab, Dewey menegaskan bahwa pemikiran kita berpangkal dari pengalaman-pengalaman, dan bergerak kembali menuju pengalaman-pengalaman. Selanjutnya kegunaan dan kemanfaatan untuk umum seharusnya menjadi ukuran, sedangkan daya untuk mengetahui dan daya untuk berpikir merupakan sarana (instrument). Terakhir bukan pengetahuan itu sendiri yang benar, tetapi pengertian itu baru menjadi benar dalam rangka proses penerapannya.
Dengan demikian, pengetahuan harus dipandang sebagai suatu capaian yang bersifat dinamis. Bukan sebaliknya : statis. Suatu capaian pengetahuan harus kembali didialogkan dengan kenyataan yang lain yang berbeda. Dari itulah kemudian dapat dipahami jika Dewey dan pemikir pragmatis lain berpandangan, pertama bahwa kebenaran itu adalah apa yang bernilai praktis. Dan ia (kebenaran itu) bertindak sebagai instrumen (alat), atau sasaran (tujuan) dalam : 1) pencapaian tujuan-tujuan kita; dan 2) kemampuan kita untuk meramalkan dan menyusun masa depan bagi penggunaan kita. Kedua, realitas objektif itu identik dengan pengalaman, dan pembagian pengetahuan subjek dan objek itu hanya dilakukan dalam pengalaman. Dan ketiga, pengetahuan bersumber dari pengalaman, metode-metode eksperimental, dan usaha-usaha praktis.
Teori Kebenaran Pengetahuan John Deway
Menurut John Dewey, Pemikiran kita itu berpangkal dari pengalaman-pengalaman, dan bergerak kembali menuju pengalaman-pengalaman. Menurutnya, bukan pengetahuan itu sendiri yang benar, tetapi pengertian itu baru menjadi benar dalam rangka proses penerapannya.
Dari pandangan-pandangan semacam inilah, teori kebenaran pengetahuan Dewey memenuhi kriteria kebenaran pragmatik. Dengan demikian, teori kebenaran pengetahuan Dewey adalah teori pragmatik. Sebab, teori kebenarannya didasarkan pada kriteria pragmatik.
Dalam diskursus filsafat ilmu, teori pragmatis dicetuskan oleh charles sanders peirce. Kemudian teori ini dikembangkan oleh para filusuf Amerika, yaitu William James, George Herbert Mead, dan C.I Lewis. Termasuk dalam barisan filusuf pengembang teori pragmatik ini adalah John Dewey, yang pemikirannya menjadi fokus perbincangan dalam tulisan ini.
Seperti diketahui, Mazhab Pragmatisme memiliki pandangan-pandangan yang secara khusus perlu kita pahami bahwa: Kebenaran suatu pernyataan harus diukur dengan kriteria apakah pernyataan itu bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Atau, suatu pernyataan dianggap benar jika pernyataan itu atau konsekuensi dari pernyataan itu memiliki kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. Sesuatu dipandang, jika ia berfungsi dalam kenyataan. Atau, sesuatu berharga dipelajari, sejauh sesuatu itu dapat dipergunakan, dan memiliki efek. Pengetahuan bersumber dari pengalaman, metode-metode eksperimental, dan usaha-usaha praktis.
Dalam menjelaskan realitas, pendirian Pragmatisme, sebagaimana dikemukakan Lorens Bagus, adalah empirisme radikal, yakni realitas obyektif itu identik dengan pengalaman. Dan pembagian pengetahuan ke dalam subjek dan objek hanya dilakukan di dalam pengalaman. Jadi, pengalaman dan kegunaan praktis, seperti telah ditegaskan sebelumnya, menjadi term sentral dalam konstruksi pemikiran Pragmatisme.
Relevansi Pemikiran Pragmatis John Dewey bagi Pendidikan Islam
Pemikiran Dewey tampak relevan bagi para pendidik untuk bersikap terbuka, rendah hati, dan membumi. Sebab, seperti dikemukakan Dewey, bukan pengetahuan itu sendiri yang benar, melainkan pengertian itu baru menjadi benar dalam rangka proses penerapannya. Dengan demikian, pengetahuan bersifat dinamis oleh karena harus sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang silih berganti, dan sekaligus mencerminkan hakikat alam semesta ini.
Setiap pendidik harus bersikap terbuka terhadap berbagai kemungkinan pengetahuan baru yang dapat merevisi pengetahuan lama yang tentu telah out of date. Sebab, kebenaran yang disaksikan oleh seorang pragmatis semacam Dewey adalah kebenaran empirik, relatif, dan partikular yang menurutnya merupakan titik-tolak dalam proses memahami dan sekaligus tujuan akhir dalam proses memahami kenyataan secara keseluruhan.
Seorang pendidik juga harus bersikap rendah hati. Sebab, pengetahuan seorang pendidik begitu kecil di depan kenyataan empirik yang kaya akan keunikan, dan keaneka-ragaman yang tentu amat mencengangkan. Hal ini didasarkan pada ajakan Dewey untuk mengubah pola pandangan terhadap realitas, yakni memikirkan hal-hal yang realistis, empiris, dan praktis sebagai titik tolak dalam memahami keseluruhan realitas.
Sikap lainnya yang harus dimiliki seorang pendidik, dalam perspektif pragmatisme Dewey adalah sikap membumi. Yakni, seorang pendidik harus mengorientasikan pandangan pada penyelesaian masalah-masalah praktis yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari yang penuh dinamika. Sebab, seperti dikemukakan Dewey. Pengetahuan itu pada hakikatnya bertujuan untuk membuat kehidupan dan dunia tempat tinggal kita ini, menjadi lebih baik.
Berkenaan dengan kurikulum konsisten dengan pemikiran Dewey di atas, harus disusun dengan berdasarkan pada: pertama, hakikat alam empirik yang menurut Dewey, sedang dalam proses penciptaan dan secara konstan bergerak maju secara terus menerus. Atau dalam ungkapannya yang lain, dunia tempat kita tinggal ini adalah dunia yang belum selesai (an unfinished world). Dan kedua, orientasi pengetahuan untuk menyelesaikan problem dasar kemanusiaan: membuat dunia menjadi lebih baik, yakni maju dan sejahtera.
Demikian, wallahu'alam !