Filsafat Sudah Selesai, Tapi Saya, Kamu dan Mama Ghufron Masih Saja Berulah

AdminSTAIBabunnajah | 2026-10-29 | 19:41:55 | 38 kali dilihat
Filsafat Sudah Selesai, Tapi Saya, Kamu dan Mama Ghufron Masih Saja Berulah
Opini
Oleh : R. Ahla Firdausi

Ada sebuah klaim provokatif yang bertiup di koridor-koridor akademik juga dunia maya pada beberapa waktu lalu: filsafat sudah selesai, semua orang termasuk konten kreator ferry irwandi juga ikut berkomentar, prof ucheng dari UGM juga sangat bersemangat ikut berdalil atas fenomena itu.

Para filsuf era Yunani Kuno telah merampungkan fondasi logika dan etika. Zaman Pencerahan membedah rasionalitas, lalu filsafat postmodern mendekonstruksi setiap makna hingga tak bersisa. Pertanyaan-pertanyaan besar seperti "Siapa kita?", "Untuk apa kita hidup?", dan "Apa itu kebenaran?" seolah sudah ditutup rapi dalam jilid-jilid buku tebal di perpustakaan yang mulai berdebu. Kemanusiaan dianggap telah kehabisan teka-teki ontologis.

Namun, mengklaim bahwa filsafat telah selesai adalah sebuah kenaifan yang melupakan satu variabel penting: Dinamika Keseharian Kita.

Ketika para pemikir barat menganggap dunia sudah usai dijelaskan, realitas sosial justru menyuguhkan pemandangan yang bertolak belakang. Di satu sisi, ada Saya juga kamu-sosok manusia modern yang terus-menerus terjebak dalam siklus kebingungan, melodrama, dan eksperimen eksistensial yang absurd. Di sisi lain, muncul fenomena lawas, Ya! Tidak salah lagi, Mama Ghufron-sebuah manifestasi mistisisme absurditas era digital yang menghadirkan bahasa-bahasa gaib dan klaim metafisika tanpa sekat rasional.

Saya dan kalian adalah gambaran nyata dari apa yang disebut oleh Albert Camus sebagai "Manusia Absurd". Saya tahu bahwa. dunia ini kerap kali tidak masuk akal. namun tak henti terus mencari makna di dalamnya. Filsafat boleh saja tamat di atas kertas, tetapi di dalam kepalaku dan kepalamu, perdebatan tidak pernah usai. Tepat!! Saya dan kalian para pembaca berulang dengan keputusan-keputusan inklusif, Menanyakan nasib pada zodiak dan ramalan tarot online jam tiga pagi misalnya. Sehingga menjadikan overthinking sebagai bagian dari identitas.

Berulahnya kita adalah bukti bahwa teks-teks filsafat klasik gagal menyelesaikan krisis eksistensial individu sehari-hari. Jika Desartes tahu mungkin akan berkata, "Aku berpikir, maka aku ada", tapi bagiku, hukum itu bergeser menjadi: "Aku berulah dan rumit, maka aku ada." Haha!..

 

Mama Ghufron dan Metafisika dalam Pusaran Pop Culture

Dalam kacamata epistimologi, pengetahuan dituntut memiliki dasar pembenaran yang sah, Tapi, kehadiran sosok seperti Mama Ghufron melompati seluruh metode ilmiah dan logika baku. Bahasa-bahasa canggih, klaim komunikasi dengan bahasa semut, sampai aksi-aksi teatrikal dilua nalar yang disiarkan ke media sosial tidak lagi membutuhkan pembuktian logis. Jika kita mewakili krisis eksistensial individu, maka fenomena Mama Ghufron representasi dari runtuhnya rasionalisme di hadapan komodifikasi spiritual digital.

Di sinilah letak ironinya: masyarakat yang hidup di era modern justru begitu mudah terpesona oleh narasi-narasi metafisika yang berkebihan. Mama Ghufron berulah bukan karena ia tidak tahu hukum logika, melainkan karena ia paham betul bahwa manusia modern sedang mengalami dahaga spiritual yang akut-sebuah celah yang ditinggalkan oleh ilmu pengetahuan yang dingin. 

Pertemuan antara kita dan Mama Ghufron menciptakan sebuah dialektika baru yang menggelitik. Filsafat mungkin sudah tidak lagi melahirkan mazhab-mazhab besar baru, Namun praktiknya tidak pernah benar-benar mati. Praktik itu hidup dalam kelakuan-kelakuan unlogic yang disajikan sehari-hari. 

Filsafat boleh saja mengumumkan pengunduran dirinya di ruang-ruang kelas atau malah menganggap semua teka-teki alam semesta telah terjawab. Tapi.. Realitasnya berkata lain. Selama saya dan kamu masih hobi merumuskan hal-hal sederhana, dan selama fenomena ihwal Mama Ghufron masih terus menguasai narasi-narasi di luar nalar, dunia tidak akan pernah kehabisan bahan untuk dipikirkan.

Pada akhirnya, di tengah dunia yang makin absurd ini, mungkin kita tidak perlu lagi mencari kebenaran mutlak. Cukuplah kita tertawa, berefleksi, dan menikmati komedi eksistensial ini: bahwa di saat teori-teori besar telah usai, kamu dan Mama Ghufron masih saja berulah.

allahu'alam!

Sign In News Alamat Profile